ascending

Lintasan

Tiga sisi pekerjaan yang awalnya tidak saya rencanakan untuk berjalan bersama.

Saya peneliti teknik mesin yang senang mengajar, meneliti, dan mengabdi. Tulisan ini bukan ringkasan CV, melainkan catatan tentang bagaimana ketiga hal itu, yang awalnya tidak saya rencanakan akan berjalan bersama, akhirnya bertemu.

Awal mula

Saya berangkat dari keluarga yang menarik. Sejak kecil saya dididik untuk bebas berekspresi, mengedepankan diskusi sebagai cara menyelesaikan masalah, terbiasa berpikir kritis, dan didekatkan pada lingkungan sosial maupun alam. Banyak hal yang saya bawa hingga sekarang berakar dari sana, termasuk cara saya memilih persoalan untuk dikerjakan.

Foto awal mula 1
Foto awal mula 2

Sebagian cara saya melihat dunia lahir dari ruang yang sangat berbeda.

Ketika saatnya memilih jurusan untuk S1, saya diajarkan untuk realistis. Sebenarnya yang paling membuat saya tertarik adalah hal-hal yang membutuhkan diskusi panjang, berita politik, kasus sosial, dan perdebatan filosofis. Tapi orangtua menyarankan saya memilih ilmu eksak, karena itu yang secara akademis lebih saya kuasai. Akhirnya saya masuk Teknik Mesin Universitas Andalas.

Begitu masuk, saya sadar minat saya pada teknik sebenarnya cukup sederhana: saya suka memahami bagaimana sesuatu dibuat, dan saya ingin tahu kenapa beberapa hal dibuat dengan baik dan yang lain tidak. Yang paling menarik bagi saya bukan teori manufakturnya sendiri, tapi pertanyaan-pertanyaan kecil yang sering dilewatkan, kenapa permukaan ini lebih halus dari yang itu, kenapa proses A lebih konsisten dari proses B, dan apa yang menentukan keputusan engineer ketika data yang ia punya tidak lengkap.

Masa S1 di Padang

Di kampus saya cukup aktif. Saya ikut Himpunan Mahasiswa Mesin, Pecinta Alam fakultas yang kami kenal sebagai PAITUA, dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik. Di BEM Fakultas Teknik, saya dipercaya sebagai Kepala Departemen Kajian Aksi Strategi, sebuah amanah yang banyak membentuk cara saya membaca persoalan, bekerja dengan orang lain, dan menyampaikan gagasan secara terbuka.

Kepercayaan itu tidak hanya lahir dari aktivitas organisasi, tetapi juga dari ketertarikan saya untuk mengelaborasi isu sosial dan lingkungan melalui sudut pandang engineering. Sebagai calon engineer, saya percaya bahwa pembangunan adalah harapan. Namun, pembangunan yang tidak melukai masyarakat, adat, dan lingkungan adalah sebuah keniscayaan. Dari fase inilah saya mulai memahami bahwa ruang belajar tidak selalu berhenti di kelas atau laboratorium, tetapi juga hadir dalam forum, organisasi, lapangan, dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Foto masa S1 di Padang 1
Foto masa S1 di Padang 2

Di fase ini, teknik mulai terasa sebagai cara berpikir, bukan sekadar jurusan.

Saya tidak menganggap diri saya aktivis dalam pengertian profesional. Tapi sebagai anak BEM di kampus negeri Sumatera pada masa itu, ikut turun ke jalan adalah hal yang melekat. Bagi saya ini bukan posisi politik, lebih ke bentuk ekspresi paling sederhana ketika ada hal di sekitar yang terasa keliru. Kemampuan untuk menyampaikan keberatan secara terbuka, dengan tertib dan beralasan, adalah salah satu hal yang paling saya syukuri dari masa kuliah itu.

Di luar organisasi, saya juga menjadi asisten di Laboratorium Mekatronika dan Otomasi Produksi. Di sanalah saya benar-benar mengasah perpaduan mekanika, informatika, dan elektronika, kombinasi yang ternyata jadi fondasi banyak hal yang saya kerjakan setelahnya. Studi S1 saya tutup dengan proyek otomatisasi mesin sangrai kopi tipe pembakaran hot air, dikendalikan PLC. Sampai sekarang saya masih bangga dengan itu, bukan karena hasilnya istimewa, tapi karena itu pertama kali saya merasa bisa membuktikan bahwa pengetahuan teoritik dan kemampuan aplikatif saya bisa berdiri di satu meja yang sama.

Pindah ke Medan, masuk S2

Pada awalnya saya tidak terpikir untuk menjadi akademisi. Rasanya cukup sudah mencari ilmu di dalam kelas, waktunya keluar dan mengimplementasikannya. Tapi karena keadaan, saya memutuskan untuk tetap di Medan setelah lulus. Dengan dorongan orangtua, terutama almarhum abah saya, Dr. Zahedi, yang juga seorang akademisi, saya akhirnya melanjutkan studi ke S2 Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara.

Pada fase ini juga, saya banyak bertumbuh bersama SANGKALA, komunitas pengembangan diri dengan basis kegiatan di alam bebas yang sampai hari ini masih saya dedikasikan waktu untuknya. Melalui ruang ini, saya semakin dekat dengan isu sosial, lingkungan, dan satwa, sekaligus belajar bahwa kerja kolektif bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga tentang cara merawat hubungan antara manusia, alam, dan tanggung jawab sosial.

Foto pindah ke Medan dan masuk S2 1
Foto pindah ke Medan dan masuk S2 2

Masa transisi ke S2 itu yang membentuk banyak hal. Saya mulai dikenalkan pada tiga sisi pekerjaan akademisi sekaligus, meneliti, mengabdi, dan mengajar. Dari situ saya membentuk sanggar belajar sendiri untuk mahasiswa di sekitar saya, dengan jadwal rutin Jumat, Sabtu, dan Minggu. Aktivitas inilah yang paling mempertajam saya, karena mengajar memaksa saya membaca dan menguasai bahan jauh sebelum jam pertemuan, dan dari situ saya sering menemukan pertanyaan riset yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Bersama beberapa rekan dan mahasiswa, riset demi riset terbit, beberapa di antaranya di Springer dan Wiley. Detail lengkapnya bisa dilihat di halaman Publikasi.

Aksi yang berjalan paralel

Yang berjalan paralel dengan pengajaran adalah pengabdian. Kali ini bukan dalam bentuk turun ke jalan, tapi aksi membangun di wilayah-wilayah yang masyarakatnya membutuhkan dukungan teknis.

Foto aksi yang berjalan paralel 1

Sebagian keyakinan saya dibentuk di forum, sebagian lagi diuji di lapangan.

Foto aksi yang berjalan paralel 2

Bersama keluarga saya, kami membangun pompa hidram untuk masyarakat di wilayah Sembahe yang kesulitan air bersih di perkampungan yang jauh dari sumber. Kami juga merancang sistem pengembunan otomatis untuk budidaya jamur tiram di Kota Medan. Yang ketiga, kami merealisasikan konsep belajar matematika yang kami namakan Marsiajar Manang Di Diape, yang berarti belajar di mana pun, di wilayah Humbang Hasundutan.

Penting saya tegaskan satu hal: semua ini saya kerjakan di luar rutinitas saya sebagai mahasiswa S2 USU. Ini bukan bagian dari instruksi dosen pembimbing, dan bukan program pengabdian kampus. Ini adalah kolaborasi antara saya dan orangtua saya sendiri.

Saya membuatnya jelas bukan untuk mengkerdilkan pengabdian formal, saya menghargai itu, tapi karena bagian penting dari cara saya bekerja adalah memilih persoalan berdasarkan apa yang dititipkan komunitas yang saya temui sendiri, bukan dari skema yang sudah disiapkan. Saya tidak melihat ini sebagai pengabdian masyarakat dalam pengertian formal. Lebih ke disiplin metodologis, metode analitis yang baik harus diuji di tempat yang sulit, bukan hanya di benchmark dataset.

Tesis dan peralihan singkat

Studi magister saya tutup dengan topik yang masih mengikat sampai sekarang, optimasi kekasaran permukaan dan keausan pahat pada pemesinan SDSS 2507 dengan pendekatan machine learning.

Foto tesis dan peralihan singkat 1
Foto tesis dan peralihan singkat 2

Selama mengerjakan tesis itu, saya banyak menulis kode untuk mempercepat pekerjaan analisis. Itu yang akhirnya membuka peralihan singkat ke dunia agensi digital, beberapa proyek pembuatan situs web dan rebranding brand, sebelum saya kembali sepenuhnya ke jalur riset. Kemampuan ini tidak saya pelajari secara formal, tapi tetap saya pelihara. Situs yang Anda baca sekarang adalah salah satu hasilnya.

Hutan dan kota saling jadi cermin

Saya percaya setiap orang dapat memberi manfaat dengan caranya masing-masing. Bekal saya ada dua, pengetahuan yang terbentuk di ruang kelas, dan mentalitas yang terbentuk di alam bebas.

Foto hutan dan kota saling jadi cermin 1

Dua ruang ini memberi saya bekal yang berbeda, tetapi saling menguatkan.

Foto hutan dan kota saling jadi cermin 2

Di hutan, saya melepas ketegangan yang dititipkan kota. Di kota, saya membawa cara melihat yang dititipkan hutan: bahwa setiap kehidupan, sekecil apa pun, layak diayomi dan dilindungi, di mana pun ia berada. Dua tempat itu, bagi saya, saling jadi cermin.

Dan mungkin itu juga yang membuat ketiga sisi pekerjaan saya, meneliti, mengajar, mengabdi, sulit dipisahkan satu sama lain. Ketiganya sebenarnya satu hal: cara saya merawat tempat dan orang-orang yang sudah merawat saya.

Untuk diskusi riset, kolaborasi, atau pertanyaan: badainusantara9@gmail.com. Saya berusaha membalas dalam 2 sampai 3 hari kerja. Download CV